Kamis, 21 Mei 2015

Pengalaman III



Menjebak Terjebak

Menebar Angin menui badai begitulah peribahasa populer dalam kehidupan kita, biasanya berkonotasi negatif sih ketimbang positif, yang artinya kurang lebih  hasil sebanding dengan usaha.
Saya punya pengalaman yang cukup menghenyakan lebih tepatnya anak saya dan saya sebagai penghuni rumah yang nantinya sebagai bagian dari cerita ini.
Anak saya sebut saja Jena punya teman sebut saja Abey, teman seperjuangan dalam merajut cita-cita menjadi “Pengusaha” mereka berdua akrab banget. Pada suatu sore yang panas  si Abey datang berkunjung ke rumah kami, ketika saya datang menjelang maghrib mereka asyiiik ngobrol serius .... hemmm pasti rencana jadi “pengusaha” yang selalu jadi topik pembicaraan antara mereka berdua.
Sebetulnya saya “kepo” apa yang dibicarakan tapi saya menahan diri untuk tidak “kepo” blassss aja kedatangan Abey itu terlupakan hingga suatu hari ke rumah kami ada yang membawa ratusan kilo produk olahan sejenis “nuget-nugetan”..... dan kebetulan yang siap menemui tamu adalah saya. Ketika ada yang ketok-ketok pintu pagar saya tergopoh-gopoh ke luar, dan ada seseorang yang membawa berkarung-karung barang makanan olahan menanyakan Pa Haji Anu dengan alamat rumah kami..... jelas saja saya bingung dan langsung nolak sambil ngomong “disini bukan rumah Pa Haji anu”, tapi tiba-tiba anak saya dari dalam keluar (mungkin karena mengdengar ribut-ribut di pintu luar) dan langsung ngomong “betul pa disini”.
Saya bengong, heran, dan ada rasa marah kenapa tidak diberitahukan akan ada yang datang ke rumah dengan nama orang lain.... melihat saya bengong ,  Jena langsung menetralisir keadaan dengan tenang dan bilang pada orang asing tersebut “bawa masuk barangnya pa”, lalu orang asing tersebut membawa masuk barang tersebut..... brug-brug suara barang olahan disimpan di ruang tamu kami yang merangkap ruang keluarga tersebut, orang tersebut sambil bergumam katanya “huuuh macet ya Bekasi – Depok itu nyaris tidak ketemu ini alamat rumah ini”.... dibawah tatapan heran, bengong, hati saya ngomong “woow dari Bekasi pikir saya” ..... untuk menutupi kebengongan, setelah selesai nyimpan barang saya bilang ke orang tersebut “masuk Pa”. Tetapi orang tersbut menolak tawaran saya masuk, dan terjadilah transaksi jual beli barang tersebut di pintu sambil berdiri. Saya tidak tahu berapa jumlahnya, setelah menerima uang dan menandatangani sesuatu di kertas orang asing tersebut langsung pergi dengan motornya.
Setelah orang asing itu pergi saya tetep berdiri dengan tanya di hati “kok mau bisnis besar-besaran gini tidak ngomong sama saya dan pinjam dari mana modalnya” setelah menghitung jumlah karung barang selesai Jena ngomong menjelaskan pada saya........”ini barang titipan si Abey mah nanti malam diambil” katanya jadi barang itu bisnisnya Abey dan isteri yang selama ini dajalaninya. Lalu Jena menjelaskan “ceritanya begini mah si Abey merasa lingkup penjualannya di Depok ada yang mengganggu yaitu dari Bekasi, padahal sudah ada kesepakatan bahwa untuk wilayah depok ya oleh Depok dan untuk wilayah Bekasi  ya oleh Bekasi, dan ternyata ada kurir melanggar aturan, sehingga Abey mau menjebak melalui Pa Haji Anu (dengan memakai alamat rumah kita).
Malam itu saya dan isterinya Jena deg degan, karena sampai malam barang tidak diambil-ambil oleh abey, sampai saya tidak bisa tidur walaupun ada di kamar tetap ingin barang segera hilang dari pandangan saya.... dan hati saya berceloteh terus “kenapa ada rencan jebak menjebak seperti tidak faham saja rizki itu tidak tertukar “ itu pikir saya.  Sudah sekitar jam 11.00 malam si Abey baru datang mengambil barang tersebut, hah leganya hati saya, setelah mereka pergi saya segera keluar dari kamar, eh ternyata isteri Jena juga keluar. Saya nanya “kemana ayah si Hafidz?” “ikut ngantar si Abey” katanya dan saya langsung ngomong “kok mamah khawatir ya, moga ayah Hafidz gak kenapa-kenapa ya”  isteri  Jena mengiyakan. Kami tak bisa tidur sebelum Jena kembali ada rasa khawatir menelipir di hati saya mungkin karena terpengaruh kata “menjebak” dan biasalah perempuan perasaannya lebay.
Akhirnya Jena sampai rumah, haah lega saya langsung masuk kamar dan terus menyimpan tanya “kenapa si Abey gak percaya bahwa rizki gak ketuker ya?” sampai mau menjebak begitu berputar-putar tanya dalam kepala saya sampai sulit tidur malam itu. Setelah kejadian malam itu sudah sampai  disitu, dan akhirnya saya dapat melupakan kejadian itu berbilang minggu.... yaaah memang waktu penyembuh luar biasa, mungkin lebih tepatnya lupa.
Hingga pada sauatu malam isteri jena ngomong bahwa ayah Hafidz lagi ada masalah yang cukup pelik dan mengancam keselamatan keluarga..... saya kaget sambil nanya masalah apa. Lalu dia menceritakan bahwa cerita titipan barang Pa haji yang bernomor handphone suaminya dan beralamat rumah kita tempo hari ada masalah yaitu uang bayaran barang yang dititipkan ke kurir “orang asing” tidak dibayarkan ke Perusahaannya. Masalah itu muncul ketika Perusahaan yang memproduksi barang tersebut menelpon Jena menagih barang sekitar sekian juta-an, tentu saja Jena kaget luar biasa dan tentu langsung “tidak terima”. Untuk menyelesaikan masalah tersebut  Perusahaan Produk Nuget-nugetan memfasilitasi mempertemukan Jena dengan “kurir” tersebut.  Saat dipertemukan, kurir tersebut dengan “dingin” mengatakan belum dibayar dan tentu saja Jena panik ada orang “sedingin itu” melakukan kebohongan di depan Jena (dan saya menyaksikan dengan kepala dan mata saya si “kurir” orang asing itu menerima uang dan menghitungnya sambil terus ngeloyor) astaghfirullah ada orang bisa berbohong secanggih itu.
Setelah kejadian itu, Jena gelisah sampai kemudian nyari “backing-an” untuk mengantar ke Perusahan tersbut, hanya sayangnya tidak ketemu dengan se pemilik Perusahaan tersebut hanya ketemu dengan menejernya yang tidak bisa menyelesaikan masalah. Jena pulang kerumah dengan  membawa permasalahan “ditipu/diperdaya/dijebak” oleh si kurir itu... dan mencari-cari sandaran ke orang lain dengan minta pendapat isterinya dulu .... dan isterinya minta pendapatku.
Saya punya pikiran skenario Jena dan Abey tidak berhasil menjebak si “kurir” tersebut malah harusnya bersukur coba bayangkan, jika si kurir pembohong berdarah dingin itu berhasil dipecundangi oleh pa haji anu alias Jena, pasti akan mengancam paling tidak si kurir sudah tahu alamat dan no Hp Jena, pasti akan lebih berdarah dingin dalam melakukan pembalasan merasa terjebak. Saya bergidik memikirkan hal ini dan bertasbih pada Allah ini adalah skenario Allah dalam melindungi keluarga Jena.
Saya bilang ke isteri Jena ini peristiwa adalah persahabatan yang mahal yang mempertaruhkan keselamatan, sebaiknya kita putuskan hentikan berhubungan dengan kuriri penipu berdarah dingin tersebut dengan cara bayar saja tagihan sekian juta ke perusahan tersebut, ya setiap sesuatu ada risikonya. Katika ingin diteruskan rasa kesal kita pada kurir bohong itu, dampaknya keluarga Jena  yang was was. Kalau diputus kita rugi uang yang lumayan, tapi ini risiko yang kecil karena uang bisa dicari minimal bisa pinjam, tapi kalau rasa aman itu yang sulit dicari dan akan berdampak panajang.
Begitulah sekelumit pengalaman “mau menjebak malah dijebak”. Moga jadi pelajaran bagi saipa saja yang mau melangkah dalam melakukan sesuatu terutama dalam berbisnis.... bukankah rugi dalam berbisnis itu biasa........................... nariiiik napas panjaaaaaaaaaang.

Tidak ada komentar: